Selasa, 09 Oktober 2012

NGABEN, Upacara Sakral Penghormatan Terakhir Masyarakat Bali

Siapa yang tidak tahu Pulau Bali? Ya, waktu SD pasti pulau ini selalu menjadi jawaban dari soal "Pulau apa yang juga disebut dengan Pulau Dewata?" atau "Pulau apakah yang disebut dengan nama lain Pulau Seribu Pura?" Ingat kan? :D


Memang, bagi siapapun yang sudah maupun belum pernah pergi ke pulau ini selalu dibuat penasaran oleh cerita-ceritanya yang sangat kental dengan budaya, keramahan penduduknya, dan keindahan alamnya. Segala sesuatu yang menyangkut pulau ini seakan sangat menarik untuk dibicarakan dan tidak akan pernah bosan untuk dibahas. Karena budayanya yang sarat budaya, terdapat berbagai macam upacara adat di pulau ini. Mulai dari upacara kelahiran, beranjak remaja, pernikahan, serta kematian. Seolah segala fase kehidupan manusia selalu ada perayaan yang mengiringi.

Dari sekian banyak macam upacara adat yang ada di pulau ini, Ngaben paling terkenal. Ngaben adalah suatu upacara pembakaran mayat yang dilakukan umat Hindu di Bali, dilakukan untuk penyucian roh leluhur orang sudah wafat menuju ketempat peristirahatan terakhir dengan cara melakukan pembakaran jenazah. Kata Ngaben sendiri mempunyai pengertian bekal atau abu yang semua tujuannya mengarah tentang adanya pelepasan terakhir kehidupan manusia. Dalam ajaran Hindu Dewa Brahma mempunyai beberapa ujud selain sebagai Dewa Pencipta Dewa Brahma dipercaya juga mempunyai ujud sebagai Dewa Api. Jadi upacara Ngaben sendiri adalah proses penyucian roh dengan cara dibakar menggunakan api agar bisa dapat kembali ke sang pencipta, api penjelmaan dari Dewa Brahma bisa membakar semua kekotoran yang melekat pada jasad dan roh orang yang telah meningggal.


Upacara Ngaben ini dianggap sangat penting bagi umat Hindu di Bali, karena upacara Ngaben merupakan perujudan dari rasa hormat dan sayang dari orang yang ditinggalkan, juga menyangkut status sosial dari keluarga dan orang yang meninggal. Dengan Ngaben, keluarga yang ditinggalkan dapat membebaskan roh/arwah dari perbuatan perbuatan yang pernah dilakukan dunia dan mengantarkannya menuju surga abadi dan kembali bereinkarnasi dalam wujud yang berbeda.

Ngaben dilakukan dengan beberapa rangkaian upacara, terdiri dari berbagai rupa sesajen dengan tidak lupa dibubuhi simbol-simbol layaknya ritual lain yang sering dilakukan umat Hindu di Bali. Upacara Ngaben biasa nya dilalukan secara besar besaran, ini semua memerlukan waktu yang lama, tenaga yang banyak dan juga biaya yang tidak sedikit, dan bisa mengakibatkan Ngaben sering dilakukan dalam waktu yang lama setelah kematian.

Pada masa sekarang ini masyarakat Hindu di Bali sering melakukan Ngaben secara massal untuk meghemat biaya yang ada, dimana jasad orang yang meninggal untuk sementara dikebumikan terlebih dahulu sampai biaya mencukupi baru di laksanakan, namun bagi orang dan keluarga yang mampu secara finansial, upacara Ngaben dapat dilakukan secepatnya, untuk sementara waktu jasad disemayamkan di rumah, sambil menunggu waktu yang baik. Ada anggapan kurang baik bila penyimpanan jasad terlalu lama di rumah, karena roh orang yang meninggal tersebut menjadi bingung dan tidak tenang, dia merasa berada hidup diantara 2 alam dan selalu ingin cepat dibebaskan.

Pelaksanaan Ngaben itu sendiri harus terlebih dahulu berkonsultasi dengan pendeta untuk menetapkankan hari baik untuk dilakukannya upacara. Sambil menunggu hari baik yang akan ditetapkan, biasanya pihak keluarga dan dibantu masyarakat beramai-ramai melakukan persiapan tempat mayat (bade/keranda) dan replika berbentuk lembu yang terbuat dari bambu, kayu, kertas warna-warni, yang nantinya untuk tempat pembakaran mayat tersebut.

Di pagi harinya saat upacara ini dilaksanakan, seluruh keluarga dan masyarakat akan berkumpul mempersiapkan upacara. Sebelum upacara dilaksanakan, jasad terlebih dahulu dibersihkan/dimandikan. Proses pelaksaaan pemandian di pimpin oleh seorang Pendeta atau orang dari golongan kasta Bramana.

Setelah proses pemandian selesai, mayat dirias dengan mengenakan pakaian baju adat Bali, lalu semua anggota keluarga berkumpul untuk memberikan penghormatan terakhir dan diiringi doa semoga arwah yang diupacarai memperoleh kedamaian dan berada di tempat yang lebih baik.

Mayat yang sudah dimandikan dan mengenakan pakaian tersebut diletakkan di dalam “Bade/keranda” lalu diusung secara beramai-ramai, seluruh anggota keluarga dan masyarakat berbaris di depan “Bade/keranda”. Selama dalam perjalanan menuju tempat upacara Ngaben tersebut, bila terdapat persimpangan atau pertigaan, Bade/keranda akan diputar putar sebanyak tiga kali, hal ini dipercaya agar si arwah bingung dan tidak kembali lagi, dalam pelepasan jenazah tidak ada isak tangis, tidak baik untuk jenazah tersebut, seakan tidak rela atas kepergiannya. Arak-arakan yang mengantar kepergian jenazah diiringi bunyi gamelan, kidung suci. Pada sisi depan dan belakang Bade/keranda yang di usung terdapat kain putih yang mempunyai makna sebagai jembatan penghubung bagi sang arwah untuk dapat sampai ketempat asalnya.

Setelah sampai dilokasi kuburan atau tempat pembakaran yang sudah disiapkan, mayat dimasukan/diletakan diatas/didalam sarkofagus/peti jenazah yang sudah disiapkan dengan terlebih dahulu pendeta atau seorang dari kasta Brahmana membacakan mantra dan doa, lalu upacara Ngaben dilaksanakan, kemudian “Lembu” dibakar sampai menjadi abu. Sisa abu dari pembakaran mayat tersebut dimasukan kedalam buah kelapa gading lalu kemudian dihanyutkan ke laut atau sungai yang dianggap suci.

Dari pemamaparan di atas dapat disimpulkan bahwa Ngaben adalah upacara pembakaran mayat di Bali yang saat disakralkan dan diagungkan, upacara ini adalah ungkapan rasa hormat yang ditujukan untuk orang yang sudah meninggal. Upacara ini selalu dilakukan secara besar dan meriah, tidak semua umat Hindu di Bali dapat melaksanakannya karena memerlukan biaya yang tidak sedikit. Semua yang berasal dari sang pencipta pada masanya akan kembali lagi dan semua itu harus diyakini dan ihklaskan. Manusia di lahirkan dan kemudian meninggal itu semua erat berhubungan dengan amal perbuatannya selama di dunia.

Nah, ngaben adalah salah satu perwujudan begitu kentalnya budaya dan hormatnya masyarakat Bali. Keragaman upacara yang terdapat di pulau ini dapat menjadi cerminan budaya bagi seluruh masyarakat Indonesia, bahwa budaya bukanlah sekedar rangkaian upacara adat sakral ataupun mistis yang harus terpelihara. Namun, budaya juga memiliki peran penting dalam kelangsungan hidup suatu bangsa, serta senantiasa mengarahkan masyarakatnya agar memiliki moral yang terpelihara.

SUMBER:
http://wisatadewata.com/article/adat-kebudayaan/upacara-ngaben

Tidak ada komentar:

Posting Komentar