Minggu, 06 Mei 2012

Asal-usul Batu Kuwung

Halo : )

Kali ini gw pngen mengenang masa-masa kecil gw di Tangerang, Banten. Berhubung dulu gw tinggal di sana, ini di bawah ini salah satu dongeng yg berasal dari Banten.

Happy reading ^_^

ASAL-USUL BATU KUWUNG

Di Kecamatan Padarincang, Ciomas terdapat objek wisata Batu Kuwung. 'Batu Kuwung' itu sendiri berarti batu cekung. Batu cekung itu menyemburkan mata air panas yang dipercaya mampu menyembuhkan berbagai macam penyakit. Bagaimana hal itu bisa terjadi? Ayo, kita baca kisahnya berikut..

Pada zaman dahulu hidup seorang saudagar kaya raya yang punya hubungan dekat dengan kerajaan Sultan Haji. Dia menguasai hampir seluruh tanah pertanian di desa-desa. Selain itu, dia juga menjadi seorang kepala desa di tempat tinggalnya. Seluruh penduduk mengenalnya sebagai seorang yang sewenang-wenang dan serakah. Dia kerap menyalahgunakan kekuasaan yang diberikan dengan memungut pajak yang lebih tinggi dari tarif yang diharuskan. Sang saudagar juga dikenal kikir. Dia tak pernah mau menolong orang yang tertimpa musibah dan orang miskin. Dia pun tak mau berkeluarga, baginya menikah dan memiliki anak adalah suatu pemborosan. Dia sangat dibenci karena hidup bermewah-mewahan bersama beberapa orang pengawal pribadinya di tengah masyarakat yang miskin.

Suatu hari datang seorang lelaki sakti menyamar sebagai seorang pengemis lapar berkaki pincang. Dia ingin memberi pelajaran dan menyadarkan Sang Saudagar. Caranya, dia menemui dan meminta makanan serta sedikit kekayaan Sang Saudagar. Bukannya memberi, Sang Saudagar justru malah memaki-maki dan mendorong tubuh Si Pengemis hingga jatuh tersungkur mencium tanah. Mendapat perlakuan seperti itu, Si Pengemis pun murka dan berkata, "Hai, Saudagar yang sombong dan kikir, kau pun harus merasakan betapa lapar dan menderitanya aku!". Setelah berkata demikian, Si Pengemis pun raib dari pandangan mata dan membuat Sang Saudagar terhenyak.

Esok harinya setelah bangun dari tidur, Sang Saudagar panik karena mengalami kelumpuhan. Tak berapa lama, dia memerintahkan para pengawalnya untuk mencari tabib-tabib sakti yang mampu mengobati kelumpuhan. Apabila dia sembuh maka imbalan yang sangat tinggi akan diberikan pada Sang Tabib. Meski sudah banyak tabib berusaha mengobati, tak ada satu pun yang berhasil. Akhirnya dia berjanji memberi setengah dari harta kekayaannya bagi yang mampu menyembuhkannya.

Mendengar janji tersebut, Si Pengemis datang menemui dan menjelaskan apa yang sebenarnya menyebabkan kelumpuhan kaki Sang Saudagar. "Ini adalah ganjalan atas sifatmu yang kikir dan sombong," ujar Si Pengemis. Si Pengemis memerintahkan Sang Saudagar untuk melakukan tiga hal jika ingin sembuh. Pertama, mengubah sifat sombong dan kikir. Kedua, bertapa di sebuah batu cekung di Gunung Karang selama tujuh hari tujuh malam tanpa makan dan minum. Ketiga, bila sembuh Sang Saudagar harus memenuhi janji untuk merelakan setengah dari harta kekayaannya kepada orang-orang miskin. Sang Saudagar percaya dan melakukan apa yang diperintahkan Si Pengemis.

Setelah melalui perjalanan yanag melelahkan, Sang Saudagar sampai di gunung. Dia lalu mulai bertapa melewati berbagai godaan. Pada hari terakhir pertapaan, batu cekung tersebut menyemburkan sumber mata air panas. Sang Saudagar segera mandi dan secara ajaib dia sembuh dari kelumpuhan. Dia pun pulang ke kampung dan memenuhi janjinya pada orang-orang miskin. Selain itu, dia juga menikahi seorang gadis cantik, anak seorang petani miskin. Dia kemudian dikenal sebagai seorang saudagar dermawan dan banyak yang menyayanginya.

SUMBER
Wulang Humba, Kumpulan Dongeng Rakyat Nusantara, Penerbit Pionir Media

Sabtu, 05 Mei 2012

Batu Belah

Halo, apa kabar semua? : )

Kali ini gw pengen flashback waktu jaman SMK. Dulu, ada tugas Lab Bahasa di sekolah gw. Tugasnya tentang membacakan dongeng Indonesia dalam Bahasa Inggris. Nah, dulu gw ngebacain dongeng dari Aceh, judulnya Batu Belah. Berhubung waktu itu harus pake bahasa Inggris, jadilah gw translate "Splitted Stone". Hahaha.. Tapi itu ga usah dibahas yaah ;p

Ini dongeng versi aslinya, check this out! :D

BATU BELAH

Pada jaman dahulu di tanah Gayo, Aceh – hiduplah sebuah keluarga petani yang sangat miskin. Ladang yang mereka punyai pun hanya sepetak kecil saja sehingga hasil ladang mereka tidak mampu untuk menyambung hidup selama semusim, sedangkan ternak mereka pun hanya dua ekor kambing yang kurus dan sakit-sakitan. Oleh karena itu, untuk menyambung hidup keluarganya, petani itu menjala ikan di sungai Krueng Peusangan atau memasang jerat burung di hutan. Apabila ada burung yang berhasil terjerat dalam perangkapnya, ia akan membawa burung itu untuk dijual ke kota.

Suatu ketika, terjadilah musim kemarau yang amat dahsyat. Sungai-sungai banyak yang menjadi kering, sedangkan tanam-tanaman meranggas gersang. Begitu pula tanaman yang ada di ladang petani itu. Akibatnya, ladang itu tidak memberikan hasil sedikit pun. Petani ini mempunyai dua orang anak. Yang sulung berumur delapan tahun bernama Sulung, sedangkan adiknya Bungsu baru berumur satu tahun. Ibu mereka kadang-kadang membantu mencari nafkah dengan membuat periuk dari tanah liat. Sebagai seorang anak, si Sulung ini bukan main nakalnya. Ia selalu merengek minta uang, padahal ia tahu orang tuanya tidak pernah mempunyai uang lebih. Apabila ia disuruh untuk menjaga adiknya, ia akan sibuk bermain sendiri tanpa peduli apa yang dikerjakan adiknya. Akibatnya, adiknya pernah nyaris tenggelam di sebuah sungai.

Pada suatu hari, si Sulung diminta ayahnya untuk pergi mengembalakan kambing ke padang rumput. Agar kambing itu makan banyak dan terlihat gemuk sehingga orang mau membelinya agak mahal. Besok, ayahnya akan menjualnya ke pasar karena mereka sudah tidak memiliki uang. Akan tetapi, Sulung malas menggembalakan kambingnya ke padang rumput yang jauh letaknya.
“Untuk apa aku pergi jauh-jauh, lebih baik disini saja sehingga aku bisa tidur di bawah pohon ini,” kata si Sulung. Ia lalu tidur di bawah pohon. Ketika si Sulung bangun, hari telah menjelang sore. Tetapi kambing yang digembalakannya sudah tidak ada. Saat ayahnya menanyakan kambing itu kepadanya, dia mendustai ayahnya. Dia berkata bahwa kambing itu hanyut di sungai. Petani itu memarahi si Sulung dan bersedih, bagaimana dia membeli beras besok. Akhirnya, petani itu memutuskan untuk berangkat ke hutan menengok perangkap.

Di dalam hutan, bukan main senangnya petani itu karena melihat seekor anak babi hutan terjerat dalam jebakannya.
“Untung ada anak babi hutan ini. Kalau aku jual bias untuk membeli beras dan bisa untuk makan selama sepekan,” ujar petani itu dengan gembira sambl melepas jerat yang mengikat kaki anak babi hutan itu. Anak babi itu menjerit-jerit, namun petani itu segera mendekapnya untuk dibawa pulang. Tiba-tiba, semak belukar di depan petani itu terkuak. Dua bayangan hitam muncul menyerbu petani itu dengan langkah berat dan dengusan penuh kemarahan. Belum sempat berbuat sesuatu, petani itu telah terkapar di tanah dengan tubuh penuh luka. Ternyata kedua induk babi itu amat marah karena anak mereka ditangkap. Petani itu berusaha bangkit sambil mencabut parangnya. Ia berusaha melawan induk babi yang sedang murka itu.

Namun, sungguh malang petani itu. Ketika ia mengayunkan parangnya ke tubuh babi hutan itu, parangnya yang telah aus itu patah menjadi dua. Babi hutan yang terluka itu semakin marah. Petani itu lari tunggang langgang dikejar babi hutan. Ketika ia meloncati sebuah sungai kecil, ia terpeleset dan jatuh sehingga kepalanya terantuk batu. Tewaslah petani itu tanpa diketahui anak istrinya. Sementara itu – di rumah isri petani itu sedang memarahi si Sulung dengan hati yang sedih karena si Sulung telah membuang segenggam beras terakhir yang mereka punyai ke dalam sumur. Ia tidak pernah membayangkan bahwa anak yang telah dikandungnya selama sembilan bulan sepuluh hari dan dirawat dengan penuh cinta kasih itu, kini menjadi anak yang nakal dan selalu membuat susah orang tua.

Karena segenggam beras yang mereka miliki telah dibuang si Sulung ke dalam sumur maka istri petani itu berniat menjual periuk tanah liatnya ke pasar. “Sulung, pergilah ke belakang dan ambillah periuk tanah liat yang sudah ibu keringkan itu. Ibu akan menjualnya ke pasar. Jagalah adikmu karena ayahmu belum pulang,” ucapnya. Akan tetapi, bukan main nakalnya si Sulung ini. Dia bukannya menuruti perintahnya ibunya malah ia menggerutu.
“Buat apa aku mengambil periuk itu. Kalau ibu pergi, aku harus menjaga si Bungsu dan aku tidak dapat pergi bermain. Lebih baik aku pecahkan saja periuk ini,” kata si Sulung. Lalu, dibantingnya kedua periuk tanah liat yang menjadi harapan terakhir ibunya untuk membeli beras. Kedua periuk itu pun hancur berantakan di tanah.

Bukan main terkejut dan kecewanya ibu si Sulung ketika mendengar suara periuk dibanting.
“Aduuuuuh…..Sulung! Tidak tahukah kamu bahwa kita semua butuh makan. Mengapa periuk itu kamu pecahkan juga, padahal periuk itu adalah harta kita yang tersisa,” ujar ibu si Sulung dengan mata penuh air mata. Namun si Sulung benar-benar tidak tahu diri, ia tidak mau makan pisang. Ia ingin makan nasi dengan lauk gulai ikan. Sunguh sedih ibu si Sulung mendengar permintaan anaknya itu.
“Pokoknya aku tidak mau makan pisang! Aku bukan bayi lagi, mengapa harus makan pisang,” teriak si Sulung marah sambil membanting piringnya ke tanah.

Ketika si Sulung sedang marah, datang seorang tetangga mereka yang mengabarkan bahwa mereka menemukan ayah si Sulung yang tewas di tepi sungai. Alangkah sedih dan berdukanya ibu si Sulung mendengar kabar buruk itu. Dipeluknya si Sulung sambil menangis, lalu berkata “Aduh, Sulung, ayahmu telah tewas. Entah bagaimana nasib kita nanti,” ratap ibu si Sulung. Tetapi si Sulung tidak tampak sedih sedikit pun mendengar berita itu. Bagi si Sulung, ia merasa tidak ada lagi yang memerintahkannya untuk melakukan hal-hal yang tidak disenanginya.
“Sulung, ibu merasa tidak sanggup lagi hidup di dunia ini. Hati ibu sedih sekali apabila memikirkan kamu. Asuhlah adikmu dengan baik. Ibu akan menuju ke Batu Belah. Ibu akan menyusul ayahmu,” ucap ibu si Sulung. Ibu si Sulung lalu menuju ke sebuah batu besar yang menonjol, yang disebut orang Batu Belah. Sesampainya di sana, ibu si Sulung pun bernyanyi,
Batu belah batu bertangkup.
Hatiku alangkah merana.
Batu belah batu bertangkup.
Bawalah aku serta.

Sesaat kemudian, bertiuplah angin kencang dan batu besar itu pun terbelah. Setelah ibu si Sulung masuk ke dalamnya, batu besar itu merapat kembali. Melihat kejadian itu, timbul penyesalan di hati si Sulung. Ia menangis keras dan memanggil ibunya sampai berjanji tidak akan nakal lagi, namun penyesalan itu datangnya sudah terlambat. Ibunya telah menghilang ditelan Batu Belah.

Makasi yaa udah mampir ke blog ini ^_^

SUMBER

http://folktalesnusantara.blogspot.com/2008/12/batu-belah.html